Uncategorized Ramadhan Road to Purchase: Kebiasaan Berbelanja Bahan Makanan di Bulan Ramadhan by jakmin June 27, 2016 written by jakmin Bulan Ramadhan menjadi salah satu momen penting bagi para pemasar dan pelaku industri ritel di Indonesia dalam kaitannya dengan aktivitas operasional bisnis yang dijalankan. Agaknya sudah menjadi rahasia umum apabila tingkat konsumsi masyarakat atas produk barang dan jasa cenderung meningkat di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan sebagian masyarakat mulai berbelanja untuk mempersiapkan kebutuhan jelang Idul Fitri. Selain itu, dalam konteks keseharian, bulan Ramadhan diyakini pula memberikan perubahan pola kebiasaan sebagian masyarakat dalam berbelanja produk bahan makanan (grocery shopping). Kami melakukan survei terhadap 1.505 responden dalam skala nasional untuk mengetahui kebiasaan mereka berbelanja bahan makanan di bulan Ramadhan. Seluruh responden yang berpartisipasi dalam survei ini adalah umat Muslim dari usia 20-50 tahun. Adapun detail informasi sampel responden dapat dilihat pada gambar berikut. Simpulan utama yang dapat ditarik dari survei ini berkaitan dengan fakta bahwa lebih dari setengah responden dalam survei ini memiliki perbedaan pola berbelanja bahan makanan antara bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain. Adapun detail perbedaan pola tersebut sangat beragam seperti perbedaan jumlah anggaran, jenis produk yang dibeli, waktu berbelanja, serta jumlah barang belanjaan yang dibeli. Kami melakukan filter responden dengan menanyakan kebiasaan mereka dalam berbuka puasa dan sahur. Dari data tersebut kami menemukan 1.233 responden yang memasak sendiri hidangan buka puasa dan sahurnya. Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan dalam survei ini kami fokuskan pada segmen responden tersebut. Dari 1.233 responden yang memasak sendiri hidangan buka puasa dan sahurnya, 79% di antaranya mengaku memiliki pola berbelanja bahan makanan yang berbeda antara bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya. Adapun anggaran belanja, waktu belanja, dan jenis produk yang dibeli menjadi tiga aspek yang paling signifikan. Kami mengajukan pertanyaan lain yang bersifat lebih detail kepada responden dalam survei ini sesuai dengan pilihan perbedaan pola berbelanja yang mereka pilih sebelumnya. Dari 191 responden dalam survei ini yang menyebutkan mereka memiliki perbedaan pilihan lokasi berbelanja antara bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain mayoritas memilih pasar tradisional dan warung sayur/toko di sekitar rumah sebagai dua lokasi pilihan. Berkaitan dengan anggaran berbelanja di bulan Ramadhan, 738 responden yang mengaku memiliki jumlah anggaran belanja bahan makanan berbeda dengan bulan lain mayoritas menyebutkan bahwa mereka memiliki budget belanja lebih besar di bulan Ramadhan. Adapun besar rata-rata jumlah anggaran untuk setiap kali belanja di bulan Ramadhan berkisar antara IDR 20-50 ribu. Sore hari setelah jam 15.00 dan pagi hari sebelum jam 12.00 menjadi dua pilihan utama waktu belanja bahan makanan yang disebutkan oleh 616 responden. Ke-616 responden tersebut seluruhnya merupakan responden yang menyebutkan bahwa mereka memiliki perbedaan waktu berbelanja bahan makanan antara bulan Ramadhan dan lainnya. 540 responden dalam survei ini mengaku memiliki perbedaan jumlah belanjaan produk bahan makanan antara bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain. 69% dari responden tersebut mengaku bahwa kuantitas jumlah belanjaan mereka justru meningkat di bulan Ramadhan. Adapun lima bahan makanan yang khusus dibeli oleh responden tersebut di bulan Ramadhan meliputi bahan mentah, buah-buahan, sayuran, dan sirup. Kebiasaan melakukan stock makanan turut menjadi perhatian kami dalam memahami pola kebiasaan berbelanja responden di bulan Ramadhan. Dari 293 responden dalam survei ini yang memiliki perbedaan pola berbelanja kami menemukan pula kecenderungan pola berbeda antara responden perempuan dan laki-laki. Selanjutnya, kami kembali menggeneralisasi kebiasaan responden dalam berbelanja produk bahan makanan. Dari 1.233 responden dalam survei ini yang memasak makanan berbuka puasa dan sahur sendiri, 70%-nya menyebutkan bahwa mereka melakukan stock bahan makanan khusus untuk kedua waktu tersebut. Bahan-bahan mentah seperti daging sapi, ikan, ayam, dan telur menjadi pilihan utama responden dari seluruh rentang usia. Kami juga menemukan fakta dari 1.233 responden yang mengaku memasak hidangan berbuka puasa dan sahur sendiri tentang perbedaan ketertarikan antara responden laki-laki dan perempuan dalam mencari informasi promo belanja khusus Ramadhan di supermarket/hipermarket. Dari seluruh responden perempuan yang termasuk dalam kategori ini, 58% mengatakan bahwa mereka mencari informasi promo belanja tersebut. Sementara itu, dari seluruh responden laki-laki yang termasuk dalam kategori ini, hanya 49% responden yang mencari informasi tersebut. Terakhir, kami bertanya pada 651 responden dalam survei ini yang mencari informasi promo belanja Ramadhan tentang lokasi supermarket/hipermarket pilihan mereka untuk berbelanja produk bahan makanan (groceries) di bulan Ramadhan. Lebih lanjut, kami menemukan pula bahwa program promo diskon menjadi bentuk promosi belanja bahan makanan di bulan Ramadhan yang paling diidolakan oleh responden. Untuk hasil survey yang lebih rinci, anda bisa mengunduh hasil survey kami dalam 2 format xls dan pdf di button bawah ini. Laporan hasil survey JAKPAT terdiri dari 3 bagian yaitu 1) Profil responden 2) Tabulasi silang (Crosstabulation) untuk masing-masing pertanyaan 3) data mentah. Profil responden menunjukkan profil demografis (jenis kelamin, usia, lokasi/domisili, pengeluaran per bulan). Dengan tabulasi silang (Cross tabulation) anda dapat menjelaskan perbedaan preferensi segmen demografis dalam terhadap masing-masing pertanyaan. Unduh PDF disini: Anda siap untuk survey? atau hubungi kami untuk mendapatkan Sales Quote atau informasi lebih lanjut +622745015293 June 27, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Uncategorized Indonesia Toleran: Ketika Kita Berada di Sekitar Orang Berpuasa – Laporan Survei by jakmin June 24, 2016 written by jakmin Indonesia, meskipun didominasi oleh masyarakat Muslim sebagai penduduk mayoritas, juga terdiri dari masyarakat penganut agama lain, yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Pada bulan Ramadhan ini, tentunya tidak semua orang menjalankan ibadah puasa, meskipun hanya minoritas yang berada di sekitar orang berpuasa. Oleh karena itu, baru-baru ini Jakpat menggelar survei untuk melihat bagaimana masyarakat Indonesia yang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan mengambil sikap ketika berada di sekitar orang yang sedang berpuasa. Survei ini melibatkan 601 responden yang merupakan penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, serta Konghucu dari seluruh Indonesia, dengan proporsi sebaran lokasi domisili adalah 20% untuk Jabodetabek, 45% untuk Pulau Jawa, dan 35% untuk kawasan yang berada di luar Pulau Jawa. Sebagai catatan lebih lanjut, seluruh responden Jakpat dalam survei ini adalah para pengguna smartphone, dengan rentang usia 16 hingga 50 tahun. Pertama-tama, kami menemukan bahwa hampir seluruh responden (91%) memiliki kenalan yang sedang menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini. Sebagian responden berada di sekitar orang berpuasa setiap waktu (37%) atau sering (36%). Sementara itu, ditemukan juga sebanyak 18% responden yang kadang-kadang berada di sekitar orang berpuasa, 6% yang jarang, dan hanya 3% yang tidak pernah sama sekali berada di sekitar orang berpuasa. Kemudian, mengenai tempat di mana mereka sering berada di sekitar orang yang berpuasa, sebagian besar menjawab bahwa mereka sering bertemu dengan orang yang berpuasa di kantor (46%) atau pusat perbelanjaan (43%). Selain itu, ada juga yang sering berada di sekitar orang yang berpuasa di dalam kendaraan umum (34%), kampus (32%), dan bahkan di rumah mereka (28%). Kami juga menemukan bahwa pada hari kerja, 31% responden menghabiskan sekitar 6 sampai 12 jam di sekitar orang yang sedang berpuasa, sementara 24% responden menghabiskan sekitar 3 sampai 6. Di samping itu, pada akhir pekan ditemukan sebanyak 26% responden menghabiskan sekitar 1 sampai 3 jam di sekitar orang yang sedang berpuasa, sementara 23% responden menghabiskan sekitar 3 sampai 6 jam. Dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa, idealnya masyarakat Indonesia memiliki tingkat toleransi yang tinggi pula. Dari hasil survei ini, kami menemukan bahwa mayoritas responden (66%) mengaku pernah makan atau minum di hadapan orang yang sedang berpuasa, dengan 71% dari mereka merasa sungkan ketika melakukannya dan 76% dari mereka meminta izin atau maaf terlebih dahulu sebelumnya. Sementara itu, dari sebanyak 34% dari responden yang mengaku tidak pernah makan atau minum di hadapan orang yang sedang berpuasa, sebanyak 88% dari mereka merasa sungkan untuk melakukannya dan 90% dari mereka sengaja mencari tempat lain untuk melakukannya supaya tidak terlihat oleh orang yang sedang berpuasa. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat toleransi masyarakat Indonesia memang cukup tinggi. Masih berhubungan dengan tingkat toleransi antar umat beragama di Indonesia, kami menemukan mayoritas dari responden (60%) mengaku pernah sengaja ikut tidak makan atau minum seperti orang yang sedang menjalani ibadah puasa. Sebanyak 66% dari mereka menyatakan bahwa alasan mereka melakukannya untuk menghormati orang yang sedang berpuasa. Data tersebut semakin menunjukkan tingginya tingkat toleransi masyarakat Indonesia. Sebagai informasi tambahan, ditemukan sebanyak 65% responden sengaja menghindari tempat makan yang ramai ketika jam berbuka puasa, sementara 31% dari responden sering ikut terbangun ketika jam sahur. Terakhir, mengenai apakah bulan Ramadhan dan orang-orang yang sedang berpuasa turut memberi pengaruh dalam mengubah pola makan mereka, mayoritas dari responden (63%) menjawab tidak. Untuk hasil survey yang lebih rinci, anda bisa mengunduh hasil survey kami dalam 2 format xls dan pdf di button bawah ini. Laporan hasil survey JAKPAT terdiri dari 3 bagian yaitu 1) Profil responden 2) Tabulasi silang (Crosstabulation) untuk masing-masing pertanyaan 3) data mentah. Profil responden menunjukkan profil demografis (jenis kelamin, usia, lokasi/domisili, pengeluaran per bulan). Dengan tabulasi silang (Cross tabulation) anda dapat menjelaskan perbedaan preferensi segmen demografis dalam terhadap masing-masing pertanyaan. Unduh PDF disini: Anda siap untuk survey? atau hubungi kami untuk mendapatkan Sales Quote atau informasi lebih lanjut +622745015293 June 24, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
News & Update Juni #2 JakPat Testimonial Responden by jakmin June 24, 2016 written by jakmin Hai JAKPATers !! Kali ini JAKPAT mau infoin lagi nih para responden yg udah tukar poinnya dengan beberapa hadiah yg ada di JAKPAT. Yang belum berhasil tuker poin, kerjain terus ya survey-survey dari JAKPAT dan kumpulin poinnya. Kalau untuk hadiah pasti JAKPAT update teruuuss kok 😉 June 24, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
LifestylePersonal What to Access? – Survey Report on Indonesians’ Media Habit during Ramadhan by jakmin June 23, 2016 written by jakmin Ramadhan has come, and it’s a big deal in Indonesia, as one of the most Moslems populated countries in the world. Regarding to that, we wonder how Ramadhan influences the media habit of Indonesians, particularly the Moslems. Therefore, recently Jakpat has conducted a survey in order to see the media habit of Indonesian Moslems during this Ramadhan. This survey involved 1219 respondents from across Indonesia, with a relatively balanced male-female composition and various economic backgrounds. For the further notes, Jakpat’s respondents in this survey are Indonesian Moslems smart-phone users, with a range of age from 16 to 50 year-old. First of all, we begin with the general opinion towards whether Ramadhan changes the media habit of Indonesian Moslems. Apparently, the opinions are divided relatively balanced into three. First, there are people who agree that the Ramadhan is indeed changing their media habit (35%). Second, on the other hand, there are also people who think that Ramadhan doesn’t bring any change towards their media habit (35%). Third, meanwhile, there are people who aren’t sure whether the Ramadhan changes their media habit (30%). Regarding to the kind of media frequently accessed during Ramadhan, most of our respondents choose the internet (90%), which they access for about 3 to 6 hours in a day on the average (39%). This makes sense since our respondents are internet active users. Furthermore, many of our respondents choose television (72%), which they watch for about 1 to 3 hours in a day on the average (49%). There are also people who choose radio (12%), newspaper (9%), and magazine (5%). For those three kinds of media, people access it for only less than an hour in a day on the average. Even in the time of internet era and among the active internet users, apparently television still got a special place for Indonesian Moslems. More than half of our respondents admit that they got the information about “imsak”[1] and “breakfasting” time schedule from the television, as chosen by 51% and 59% respondents, respectively. Many of our respondents (72%) also admit that they watch special Ramadhan broadcast programs on television. There are top five channels that they frequently watch the special Ramadhan broadcast programs on: (1) NET as chosen by 25%, (2) RCTI as chosen by 17%, (3) Trans TV as chosen by 13%, (4) Trans 7 as chose by 13%, and (5) SCTV as chosen by 12%. Regarding to the gadget that Indonesian Moslems frequently use during Ramadhan, most of our respondents (94%) choose smartphone. This makes sense since our respondents are smartphone users. Henceforth, there are also some of them who choose laptop (35%), personal computer (16%), and tablet (14%). We also found out that there are 24% of our respondents who download special Ramadhan apps on their gadget, with 83% of them admit that they access the apps every day during Ramadhan. Lastly, we asked those who frequently access internet, regarding to the activities they do while at it. Apparently, most of them (80%) are accessing the social media, while more than half of them are searching for some content or as we know as Googling (56%), instant-messaging (53%), surfing the web (53%), and checking or sending email (52%). Meanwhile, half of them are Youtube-ing (50%) and some of them are just strolling on some sites (44%). [1] Time that marks the start of fasting For more detail you can download XLS report at the button below (bahasa). JAKPAT report consists of 3 parts which are 1) Respondent Profile, 2) Crosstabulation for each question and 3) Raw Data. Respondent profile shows you demographic profiles ( gender,age range, location by province, and monthly spending). Cross tabulation enables you to define different demographic segment preference on each answer. You can also download PDF here: Ready to Send A Survey? or Get A Sales Quote by filling this form or Call to +622745015293 June 23, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Uncategorized Ramadhan Road to Purchase: Belanja Fashion dan Aksesoris untuk Lebaran – Survey Report by jakmin June 21, 2016 written by jakmin Setelah berpuasa Ramadhan selama satu bulan, umat Muslim di seluruh dunia akan bersuka cita merayakan Idul Fitri (Lebaran). Di Indonesia, Idul Fitri umumnya menjadi momen berkumpulnya keluarga, orang-orang terkasih, serta kerabat di sekitar tempat tinggal untuk saling bermaaf-maafan dan berbagi keceriaan. Khusus untuk merayakan Lebaran ini banyak masyarakat yang sengaja membeli pakaian atau aksesoris baru agar tampil menarik saat berkumpul dengan keluarga. Secara simbolik, beberapa orang menganggap mengenakan pakaian atau aksesoris baru saat hari Lebaran menandakan lahirnya jiwa baru yang suci dan pribadi yang lebih baik setelah bermaafan. Kami mengirimkan survei kepada 1.210 responden dalam skala nasional untuk mengetahui rencana mereka berbelanja produk fashion dan aksesoris untuk merayakan Lebaran. Mengacu pada data dari BPS tahun 2010, total populasi umat Muslim di Indonesia sebanyak 238 juta penduduk. Dengan menggunakan formula penghitungan sampel Slovin (1960) jumlah sampel responden yang kami ajukan dalam survei ini dianggap valid dan representatif untuk merepresentasikan populasi tersebut. Adapun detail komposisi demografis dan geografis responden ditampilkan dalam gambar berikut. Catatan menarik tentang insight responden dalam survei ini berpusat pada perbedaan pola kebiasaan berbelanja antara responden perempuan dan laki-laki untuk membeli produk fashion dan aksesoris. Dilihat dari jenis produk fashion yang akan dibeli, responden perempuan cenderung membeli lebih banyak fashion item serta berbelanja lebih awal dibanding responden laki-laki. Meskipun demikian, ketika kami mengajukan pertanyaan tentang peran pengambil keputusan (decision maker) dalam proses berbelanja, sebagian responden laki-laki dalam survei ini menyebutkan bahwa pasangan merekalah yang akhirnya memutuskan produk fashion mana yang akan dibeli. Sebelumnya kami melakukan screening pada responden yang berpartisipasi dalam survei ini tentang rencana mereka berbelanja produk fashion dan aksesoris untuk merayakan Lebaran. Dari seluruh responden yang berpartisipasi dalam survei ini 83% menyebutkan bahwa mereka berencana membeli produk fashion dan aksesoris baru. Sementara itu, 17% tidak berencana membeli dikarenakan sejumlah alasan. Fokus pertanyaan kami kemudian dipusatkan hanya pada responden yang berencana membeli produk fashion dan aksesoris untuk Lebaran. Dari 1.005 responden yang berencana berbelanja fashion&aksesoris, pilihan jenis produk (fashion item) yang akan dibeli oleh responden laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Mengingat pilihan jenis produk fashion perempuan cenderung lebih banyak dibandingkan laki-laki maka temuan dalam survei ini sangat wajar untuk dirasionalisasikan. Berkaitan dengan waktu berbelanja produk fashion&aksesoris untuk merayakan Lebaran, mayoritas responden dalam survei ini cenderung berbelanja mulai dua minggu hingga kurang dari tujuh hari sebelum hari Lebaran. Membandingkan jawaban dari respoden perempuan dan laki-laki dalam survei ini, mayoritas responden perempuan cenderung berbelanja jauh lebih awal. Tren meningginya tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat menjelang hari raya Lebaran mendorong sejumlah vendor dan department store mengadakan program promo besar-besaran. Di antara berbagai program promosi yang ada, sebagian besar responden dalam survei ini cenderung lebih menyukai program promo diskon untuk produk fashion dan aksesoris yang akan mereka beli. Pilihan lokasi berbelanja produk fashion dan aksesoris menjadi fokus pertanyaan kami selanjutnya. Di antara seluruh lokasi berbelanja yang ada, sejumlah pusat perbelanjaan seperti mall, online marketplace, butik/distro, online shop di social media menjadi pilihan responden yang berencana berbelanja. Mengingat online marketplace menjadi salah satu lokasi pilihan responden dalam survei ini untuk berbelanja produk fashion&aksesoris Lebaran, kami secara khusus bertanya pada mereka tentang pilihan online marketplace yang dituju. Menariknya, responden laki-laki dan perempuan yang menjawab pertanyaan ini memiliki preferensi berbeda. Pertanyaan dalam survei kami selanjutnya berpusat pada anggaran belanja fashion dan aksesoris responden. Dari 1.005 responden dalam survei ini yang berencana berbelanja mayoritas menganggarkan anggaran belanja khusus untuk produk fashion dan aksesoris sebesar Rp 200.000 – 600.000,00. Lebih lanjut, berkaitan dengan adanya teman (companionship) saat berbelanja, 90% responden pergi berbelanja dengan orang lain dan hanya 10% dari mereka yang pergi berbelanja sendirian. Kami memfokuskan pertanyaan survei kami hanya kepada 905 orang responden yang berencana pergi membeli produk fashion&aksesoris Lebaran dengan orang lain. Dari 905 responden tersebut, 95% menyebutkan bahwa mereka akan mempertimbangkan saran dari orang yang menemani mereka berbelanja. Menariknya, pihak penentu keputusan akhir (decision maker) atas produk yang akan dibeli cenderung didominasi oleh mereka sendiri. Pada akhirnya, kami kembali mengajukan pertanyaan kepada seluruh responden tentang apakah mereka akan menerima tunjangan hari raya (THR) dalam Idul Fitri kali ini. Dari seluruh responden yang berpartisipasi, 1.077 orang mengatakan akan menerima THR. Selanjutnya, kami bertanya tentang alokasi THR yang mereka terima guna mengetahui besar presentase anggaran yang mereka alokasikan dari THR tersebut. Adapun alokasi THR responden dalam survei ini digunakan untuk bersedekah dan membayar zakat, belanja fashion dan aksesoris untuk Lebaran, ditabung, memberi uang saku kepada kerabat, serta belanja makanan dan kue Lebaran. Untuk hasil survey yang lebih rinci, anda bisa mengunduh hasil survey kami dalam 2 format xls dan pdf di button bawah ini. Laporan hasil survey JAKPAT terdiri dari 3 bagian yaitu 1) Profil responden 2) Tabulasi silang (Crosstabulation) untuk masing-masing pertanyaan 3) data mentah. Profil responden menunjukkan profil demografis (jenis kelamin, usia, lokasi/domisili, pengeluaran per bulan). Dengan tabulasi silang (Cross tabulation) anda dapat menjelaskan perbedaan preferensi segmen demografis dalam terhadap masing-masing pertanyaan. Unduh PDF disini: Anda siap untuk survey? atau hubungi kami untuk mendapatkan Sales Quote atau informasi lebih lanjut +622745015293 June 21, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
News & Update [PENGUMUMAN] Pemenang Lucky Draw Juni 2016 by jakmin June 20, 2016 written by jakmin Halo JAKPATerss ^^ Gimana puasanyaaa?? Lancarkan? Tetap harus semangat ya, tinggal bentar lagi buka puasa kok 😀 Nah… btw tau dong JAKPAT mau ngapain di postingan kali ini? bukan testimoni ya.. hehe.. Yaaaaapp JAKPAT mau umumin para pemenang Lucky Draw di bulan ini.. Yuk doa sama-sama, siapa tau rejeki bulan ramadhan 😉 Berikut nama-nama akun JAKPAT yg beruntung. Silahkan segera cek email masing-masing ya 🙂 Pemenang Wireless Presentation Remote : Fitri Ayu Permata Astri Pemenang Voucher Pulsa 50K : 1. Tai Gani 2. Puttra Wibawa 3. Maurizia Serlyna Wijaya 4. Dewi Mei Lina 5. Daniel Ramdhani 6. BlackRed 7. Alfi Laili Puspita 8. Sulaeman Nurmaki 9. Romadhoni Saputra 10. Yulien Yusanti Pemenang Voucher Carefour 100K : 1. Tony Adams 2. Laily Ira Fauziyyah 3. Madeline Ting 4. Ahmad Nur Kholiq 5. Arfan Sudrajat Hadiah akan diproses pada tanggal 27-30 Juni ya. JAKPAT tunggu balasan email dari kalian 🙂 June 20, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Uncategorized Yumm! – Consumption Pattern of Complementary Food for Breakfast by jakmin June 20, 2016 written by jakmin Sometimes, rather than having a heavy meal for breakfast, people tend to choose having some light meals, such as bread, cereal, or oatmeal. Most of the times, for getting a more pleasant taste, people put some “extra ingredients” in their meals, such as jam or butter. Therefore, recently Jakpat has conducted a survey in order to see Indonesian’s consumption pattern towards complementary food for breakfast, which includes cereal, oatmeal, bread, jam, and butter. Even though those kinds of food are not always consumed for breakfast or during the breakfast time, for this survey we’ve categorized them into “complementary food for breakfast”. This survey involved 5550 respondents from across Indonesia. For the further notes, Jakpat’s respondents in this survey are Indonesian smart-phone users, with a range of age from 16 to 50 year-old and various economic backgrounds. As this survey aims to map consumption pattern of complementary food for breakfast in everyday life, first of all we divide the product of the food into five categories: cereal, oatmeal, bread, jam, and butter. Apparently, more than half of our respondents (51%) admit that they frequently consume bread. Moreover, 19%, 12%, and 11% of them often consume cereal, jam, and butter, respectively. There are also 9% of them who consume oatmeal. Regarding to the frequency of consuming complementary food for breakfast, apparently all five of the categories are mostly consumed 2 to 3 times in a week. Furthermore, when asked about when the last time they consumed complementary food for breakfast, our respondents mostly chose “within this week” for all five kinds of food. This indicates that basically they consumed complementary food for breakfast every week. Regarding to the top brands of complementary food for breakfast, the cereal category is topped by Energen (45%), while the oatmeal category is topped by Quaker (50%). Subsequently, for the bread category, Sari Roti is topping the list with 74%, while Blue Band is unbeatable in the butter category with 81%. Apparently, there are two tight rivals in the jam category, with Morin is leading the list with 25% and Nutella is following closely behind with 21%. In addition to that, when asked about the reason why they buy those certain brands, most of our respondents answered that it’s easier to find at the store, for all of those five categories. Regarding to the most visited place to buy complementary food for breakfast, apparently minimarket is mostly chosen by our respondents for all of five kinds of food. Furthermore, when asked about how many units they buy on their last purchase, most of our respondents answered “1 unit” for all five categories. This indicates that even though they regularly consume cereal, oatmeal, bread, jam, and butter, they like to buy it in pieces rather than in packages. Lastly, in regards to the money spent for buying complementary food for breakfast in one purchase, the average spending is about IDR 10,000 to IDR 20,000. For cereal, they usually spend more, for about IDR 20,000 to IDR 40,000 (24%). On the other hand, for butter, they usually spend less, for about IDR 5,000 to IDR 10,000 (39%) in one purchase. For more detail you can download XLS report at the button below (bahasa). JAKPAT report consists of 3 parts which are 1) Respondent Profile, 2) Crosstabulation for each question and 3) Raw Data. Respondent profile shows you demographic profiles ( gender,age range, location by province, and monthly spending). Cross tabulation enables you to define different demographic segment preference on each answer. You can also download PDF here: Ready to Send A Survey? or Get A Sales Quote by filling this form or Call to +622745015293 June 20, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Uncategorized The Dairy and Frozen Food Consumer Mapping – Survey Report by jakmin June 17, 2016 written by jakmin The dairy and frozen foods are two kinds of food product that regularly consumed by some of us. Some of us love the tasty dairy product, some others loves the simple and quickly cooked frozen food, while some others loves both. We conducted a survey toward 3.865 respondents in nationwide to map their consumption pattern of dairy and frozen food product. Download the Infographic Report PDF here The demographic compositions of our respondents who have participated in this survey are relatively balance. 57% of our respondents are male and 43% are female, while their age range starts from the younger than 16 years old to the older than 45 years old. Moreover, the geographic and economic compositions of our respondents are shown in the image below. To summarise our findings in this survey, we find different pattern of market competition among any types of dairy and frozen food products. When it comes to cheese and margarine/butter, the market competition are dominated only by certain brands, while many other brands aimed to be the brand challenger. In other hand, the frozen food and mayonnaise/dressing brands are facing a fierce competition to gain the biggest market. Moreover, respondents’ final decision on choosing certain brand of dairy and frozen foods are basically influenced by two main reasons such as product taste and its availability in the marketplace. From all 3.865 respondents who have participated in this survey, we asked them to pick the dairy and frozen foods they regularly consume. Respondents were allowed to choose more than just one answer on our survey. Among all possible answers, most respondents are regularly consuming frozen food, margarine/butter, mayonnaise/dressing, and cheese. We further try to lay out specific map of our respondents regarding every dairy and frozen food product. First of all, we would like to lay out the frozen food product consumer mapping from 2.616 respondents in this survey who regularly consume frozen food. Includes in the frozen foods are frozen nugget, French fries, sausages, and meatball. Regarding their frequency of consuming frozen food product, some respondents are showing significant tendency. 27% of them are consuming frozen food in daily basis, while 22% of them are consuming in just 2-3 times a month. Moreover, we also highlight their last time of consuming frozen food product. We asked our respondents to mention the frozen food brand they lastly consumed. Among all frozen food brands, some frozen food brands that mostly mentioned were Fiesta, So Good, So Nice, Champ, Belfoods, Bernardi, Farmhouse, and else. Moreover, regarding their reason of consuming their latest preferred frozen food brand, most respondents’ decision was based on the product taste and availability in the market. When it comes to the place of buying their latest purchased frozen food brands, our male and female respondents tend to show different preferences. However, supermarket and minimarket becomes two most visited places for them to buy the products. Averagely, most respondents in this survey were buying only one unit on their latest transaction, and they spent about IDR 5.000 – 40.000 in their latest transaction. We then try to lay out our consumer mapping of margarine/butter. From all respondents who have participated in this survey, 1.578 of them said that they regularly consume margarine/butter. Their frequencies of consuming margarine/butter product are various, but most of them are consuming about 2-3 times a week. In other hand, most of respondents were last time consuming margarine/butter product on this week. Regarding the respondents’ preference on the brand, more than half of our respondents in this survey mention Blue Band as the last consume margarine/butter brand. The percentage of Blue Band is very high and dominating other brands. Moreover, the product availability in the market becomes the most important reason of choosing the brand for most respondents. When it comes to the location of buying their latest purchased margarine/butter product, minimarket and supermarket becomes two most preferred places by respondents. Regarding the number of purchased unit in their latest transaction, more than half respondents were only buying one unit and spent about IDR 5.000 – 20.000. From all respondents who have participated in the survey, 453 respondents regularly consume mayonnaise/dressing. Their frequencies of consuming mayonnaise/dressing product are various, but most of them are consuming up to 2-3 times a week. Moreover, their most last time consuming mayonnaise/dressing product was on this week. Regarding respondents’ preference on the brand, most respondents in this survey are consuming Mayumi, Maestro, Kraft Mayo, MamaSuka, Euro Gourmet Mayo, and else. Moreover, their reasons of consuming their latest preferred brand were mostly dominated by the product taste as well as the product availability in the market. Minimarket and supermarket becomes two most preferred places for respondent in this survey to buy mayonnaise/dressing product they lastly consumed. Most of them were only buying one unit in their latest purchase and spent about IDR 10.000 – 20.000. At last, from all respondents who have participated in the survey, 1.184 respondents in this survey regularly consume cheese. Their frequencies of consuming cheese are various, but most of them are consuming about 2 to 3 times a week. Moreover, most of them are last time consuming cheese product on this week. Regarding respondents’ preference on the brand, most respondents in this survey are consuming Kraft, Cheddar, Prochiz, and other brands. Moreover, their reasons of consuming their latest preferred brand were mostly dominated by the product taste and availability in the market. Similar with the consumer map of mayonnaise/dressing product, minimarket and supermarket becomes two most preferred places by respondents in this survey to buy cheese. On their latest transaction, most of them bought only one unit cheese and spent about IDR 10.000 – 20.000. For more detail you can download XLS report at the button below (bahasa). JAKPAT report consists of 3 parts which are 1) Respondent Profile, 2) Crosstabulation for each question and 3) Raw Data. Respondent profile shows you demographic profiles ( gender,age range, location by province, and monthly spending). Cross tabulation enables you to define different demographic segment preference on each answer. Ready to Send A Survey? or Get A Sales Quote by filling this form or Call to +622745015293 June 17, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Gaya Hidup Kebiasaan Sahur di Bulan Ramadan by jakmin June 16, 2016 written by jakmin Dalam menjalani bulan Ramadan salah satu kegiatan rutin adalah melakukan sahur. Setiap orang mungkin melakukan sahur dengan cara mereka sendiri. Melalui survei ini kami ingin melihat apakah ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang banyak umat muslim lakukan selama waktu sahur. Dengan begitu kami melibatkan sebanyak 823 responden beragama Islam yang tersebar di sebagian wilayah Indonesia dan yang mengaku berpuasa di bulan Ramadan ini. Dengan asumsi setiap responden yang terlibat dalam survei ini memiliki jam bangun tidur yang berbeda-beda, kami menanyakan berapa lama sebelum imsak biasanya mereka bangun untuk keperluan sahur. Hasil yang diperoleh, sebanyak 46.66% responden mengaku bangun tidur satu jam sebelum waktu imsak. Lalu sebanyak 23.21% bangun tidur dua jam sebelum imsak. 13.24% bangun 45 menit sebelumnya. 8.51%, setengah jam sebelumnya. Lalu hanya 2.19% dan 1.46% yang mengaku bangun tidur 15 menit dan empat jam sebelum waktu imsak. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang membangunkan para responden untuk sahur. Temuan kami adalah bahwa sebanyak 47.51% responden dibangunkan tidur untuk sahur oleh alarm. Lalu sebanyak 35.97% mengaku dibangunkan oleh orang lain. Terakhir, 16.52% responden mengaku bahwa mereka bangun tidur dengan sendirinya tanpa bantuan alarm atau orang lain. Kemudian kami melanjutkan pertanyaan ke masalah hidangan makan sahur. Kami menanyakan bagaimana biasanya para responden yang terlibat dalam survei ini mendapatkan makanannya. Sebanyak 47.87% mengaku mereka dimasakkan oleh orang lain seperti anggota keluarga atau orang terdekat. Sebanyak 36.57% mengaku masak sendiri. Lalu ada hanya 8.38% dan 6.08% yang mengaku jalan keluar untuk membeli makanan dan beli makanan dari malam sebelumnya. Kami pun bertanya apa yang para responden lakukan selama waktu sahur selain menyiapkan makanan atau hidangan sahur. 59.17% responden mengaku menonton acara TV yang berhubungan dengan Ramadan.23.09% mengaku bahwa mereka tidak banyak melakukan apa-apa selain mengumpulkan ‘nyawa’. 20.05% mengaku melaksanakan solat malam. 13.37% mengaku membaca Al Quran. 11.42% mengaku menonton acara TV tapi tidak berhubungan dengan Ramadan. Kami kemudian lanjut ke pertanyaan mengenai hidangan sahur, terutama minuman. Kami bertanya jenis minuman apa yang biasa dikonsumsi para responden kami yang terlibat di dalam survei ini. Jenis minuman yang paling dipilih para responden adalah air mineral atau air putih (dijawab oleh 76.54% responden). 34.51% mengaku mengkonsumsi minuman manis pada saat waktu sahur. Lalu sebanyak 17.74% responden mengaku mengkonsumi produk minuman yang berbahan dasar susu (oat meal, oat instan, susu siap minum, dll). Kami kemudian bertanya apakah para responden dalam survei ini mengkonsumsi multivitamin pada saat sahur. Kami berasumsi mengkonsumsi multivitamin dapat memberikan pengaruh positif pada kebugaraan tubuh pada saat berpuasa. Akan tetapi, sebanyak 75.94% responden mengaku tidak mengkonsumsi multivitamin. Hanya 24.06% mengkonsumsi multivitamin Selain multivitamin, kami juga menanyakan apakah para responden mengkonsumsi buah pada saat sahur. 53.1% menjawab bahwa mereka tidak mengkonsumsi buah pada saat sahur. Sebanyak 46.9% responden menjawab bahwa mereka mengkonsumi buah pada saat sahur. Pertanyaan kami lanjutkan ke topik makan atau minum ketika imsak. Kami ingin tahu apakah para responden kami yang terlibat di dalam survey ini masih mengkonsumsi makanan atau minuman ketika waktu imsak sudah tiba. Sebanyak 69.74% responden mengaku berhenti mengkonsumsi makanan atau minuman ketika waktu imsak tiba. Dan, 30,26% mengaku sebaliknya. Kemudian pertanyaan dilanjutkan ke topik solat Subuh. Kami ingin melihat apakah ada kecenderungan tertentu dari pelaksanaan solat Subuh di bulan Ramadan. Sebanyak 79.95% mengaku melaksanakan solat Subuh setelah adzan Subuh dikumandangkan. 16.87% mengaku melaksanakan solat Subuh tepat ketika adzan Subuh berkumandang. Dan, 3.16% mengaku tidak melaksanakan solat Subuh. Kemudian kami ingin tahu kebiasaan menonton TV setelah sahur atau setelah solat Subuh. Sebanyak 75.58% responden mengaku tidak melanjutkan menonton TV setelah sahur atau Subuh. Sebanyak 24.42% mengaku sebaliknya. Pertanyaan terakhir berkisar kebiasaan tidur setelah sahur atau setelah solat Subuh. Sebanyak 72.54% responden mengaku mereka kembali tidur setelah sahur atau solat Subuh. Lalu, 27.46% mengaku sebaliknya. Untuk hasil survey yang lebih rinci, anda bisa mengunduh hasil survey kami dalam 2 format xls dan pdf di button bawah ini. Laporan hasil survey JAKPAT terdiri dari 3 bagian yaitu 1) Profil responden 2) Tabulasi silang (Crosstabulation) untuk masing-masing pertanyaan 3) data mentah. Profil responden menunjukkan profil demografis (jenis kelamin, usia, lokasi/domisili, pengeluaran per bulan). Dengan tabulasi silang (Cross tabulation) anda dapat menjelaskan perbedaan preferensi segmen demografis dalam terhadap masing-masing pertanyaan. Unduh PDF disini: Anda siap untuk survey? atau hubungi kami untuk mendapatkan Sales Quote atau informasi lebih lanjut +622745015293 June 16, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail
Gaya HidupUncategorized Rencana dan Kebiasaan Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadhan – Survey Report by jakmin June 14, 2016 written by jakmin Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh berkah yang dinanti oleh hampir seluruh umat Muslim di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Menariknya, kebiasaan masyarakat di bulan Ramadhan turut melahirkan kultur baru dalam aktivitas keseharian berpuasa. Kami melakukan survei terhadap 1.221 responden untuk mengetahui rencana dan kebiasaan mereka berbuka puasa di bulan Ramadhan. Berbuka puasa merupakan salah satu momen yang paling dinanti oleh umat Muslim sebagai penanda berakhirnya ibadah puasa mereka di hari tersebut. Selain itu, berbuka puasa kerap kali menjadi momen istimewa untuk berkumpul menikmati hidangan buka puasa dengan orang-orang terkasih. Survei ini kami kirimkan kepada 1.221 responden dalam skala nasional untuk mengetahui rencana dan kebiasaan mereka berbuka puasa. Perhitungan sampel didasarkan pada rumus Slovin (1960) dari total populasi umat Muslim di Indonesia sebanyak 238 juta per tahun 2010. Catatan menarik dari data temuan survei kami berpusat pada tren kebersamaan dalam momen buka bersama dan pilihan aktivitas untuk menunggu waktu berbuka puasa. Tren berbuka puasa bersama teman menunjukkan kenaikan yang signifikan di minggu kedua dan ketiga bulan Ramadhan. Selain itu, responden perempuan dan laki-laki yang berpartisipasi dalam survei ini cenderung memiliki preferensi aktivitas menunggu waktu berbuka yang berbeda. Pada mulanya kami menanyakan tentang rencana berpuasa responden yang berpartisipasi dalam survei ini. 98% responden yang berpartisipasi dalam survei ini menyatakan bahwa mereka akan berpuasa di bulan Ramadhan ini. Menariknya, dari 2% responden yang menyatakan tidak akan berpuasa di bulan Ramadhan, 46%-nya tetap berencana mengikuti kegiatan buka bersama. Pada minggu pertama di bulan Ramadhan, keluarga menjadi pilihan utama rekan (companion) berbuka puasa bagi sebagian besar responden. Akan tetapi, responden perempuan dan laki-laki memiliki preferensi berbeda atas pilihan rekan lainnya untuk berbuka. Responden perempuan berencana berbuka puasa bersama keluarga, pasangan, dan teman di minggu pertama Ramadhan, sedangkan responden laki-laki berencana berbuka dengan keluarga, teman, dan pasangan. Tren kebersamaan pada momen buka puasa sedikit berubah pada minggu kedua dan ketiga Ramadhan. Keluarga memang masih menjadi pilihan utama oleh sebagian besar responden, namun dilihat dari presentasenya menunjukkan adanya deklinasi. Sementara itu, teman dan pasangan justru menunjukkan tren kenaikan. Menariknya, pada minggu terakhir bulan Ramadhan tren berbuka puasa bersama dengan keluarga kembali menunjukkan adanya kenaikan. Secara konsisten keluarga memang tetap menjadi pilihan utama rekan berbuka bagi sebagian besar responden, namun temuan ini diimbangi pula dengan kenaikan presentasenya dibandingkan pada minggu kedua dan ketiga. Untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) pilihan aktivitas yang dilakukan oleh responden perempuan dan laki-laki dalam survei ini cenderung berbeda. Dari seluruh pilihan aktivitas yang ada, responden perempuan cenderung menghabiskan waktu untuk mempersiapkan buka puasa, browsing/streaming/akses media sosial, menonton TV, jalan-jalan ke luar rumah, dan beribadah di rumah. Sementara itu, responden laki-laki cenderung lebih suka menonton TV, main game, dan jalan-jalan ke luar rumah sembari menunggu waktu buka puasa. Mayoritas responden dalam survei ini cenderung menunggu adzan Maghrib penanda waktu berbuka dari masjid di sekitar rumah mereka. Selain itu, sebagian responden juga menunggu adzan Maghrib dari siaran televisi. Makanan Indonesia menjadi menu berbuka puasa favorit mayoritas responden yang berpartisipasi dalam survei ini. Sementara itu, selain makanan pokok yang dihidangkan sebagai menu berbuka puasa, sejumlah menu pilihan seperti teh manis, air putih, kurma, snack, dan buah menjadi menu tambahan yang disukai oleh responden. Kegiatan buka puasa bersama dengan teman-teman merupakan hal yang menyenangkan. 63% responden dalam survei ini berencana untuk berbagi keceriaan tersebut dengan mem-posting kegiatan buka bersama ke akun media sosial mereka. Adapun pilihan rekan (companion) untuk berbuka bersama cenderung berbeda di antara para responden dengan segmen usia yang berbeda. Responden dari segmen usia yang berbeda cenderung memiliki preferensi lokasi buka puasa ideal yang berbeda pula. Secara umum, seluruh responden yang dalam survei ini mengaku akan berbuka puasa bersama di luar menyebutkan bahwa harga menjadi faktor penentu utama pilihan lokasi buka puasa mereka. Sementara itu, faktor sekunder dan tersier penentu pilihan lokasi buka puasa bersama relatif berbeda antar kelompok usia. Untuk setiap kali kegiatan buka puasa bersama, responden dalam survei ini rata-rata menghabiskan kurang dari IDR 50.000 hingga 70.000/orang. Lebih lanjut, responden nampaknya tidak memiliki persiapan khusus untuk menghadiri acara buka bersama. Terkait persiapan untuk buka bersama, mayoritas responden akan membuat janji dengan teman, hadir lebih awal, serta sebagian lain akan mengajak pasangan mereka untuk ikut hadir di acara buka bersama tersebut. Untuk hasil survey yang lebih rinci, anda bisa mengunduh hasil survey kami dalam 2 format xls dan pdf di button bawah ini. Laporan hasil survey JAKPAT terdiri dari 3 bagian yaitu 1) Profil responden 2) Tabulasi silang (Crosstabulation) untuk masing-masing pertanyaan 3) data mentah. Profil responden menunjukkan profil demografis (jenis kelamin, usia, lokasi/domisili, pengeluaran per bulan). Dengan tabulasi silang (Cross tabulation) anda dapat menjelaskan perbedaan preferensi segmen demografis dalam terhadap masing-masing pertanyaan. Unduh PDF disini: Anda siap untuk survey? atau hubungi kami untuk mendapatkan Sales Quote atau informasi lebih lanjut +622745015293 June 14, 2016 0 comments 0 FacebookTwitterPinterestEmail